Langsung ke konten utama

Apa yang Hilang (Mungkin) Akan Kembali

 

Bisa dibilang, dua tahun belakangan ini hidup terasa lebih berat. Saya merasa dikejar-kejar oleh ketidakpastian dan ketakutan akan masa depan. Sampai di titik saya merasa tidak ingin hidup berlama-lama. Karena membayangkan rutinitas (bangun-kerja-pulang-tidur) untuk sepuluh tahun lagi tampak mustahil dilalui oleh saya.

Tetapi semesta berkata lain, nyatanya saya hidup jauh lebih lama dengan beragam spektrum warna. Saya dapat merasakan kebebasan yang sebelumnya tidak bisa dicecap karena peran sebagai anak. Mengenal berbagai jenis watak dan isi kepala manusia. Sampai berpetualang ke ceruk-ceruk jalan tikus untuk sekadar menikmati mi ayam gerobak.

Jujur, saya rindu dengan masa remaja saya yang masih idealis dan berambisi memiliki karya fiksi sendiri. Dahulu, saya memiliki karya fiksi bersama teman-teman komunitas Dimensi Kata berupa kumpulang cerpen berjudul Pencuri Mimpi

 

Buku ini terbit di tahun 2018 dengan bantuan percetakan mandiri dan di-layout oleh teman-teman Dimensi Kata sendiri. Kami menyunting, merancang sampul, dan memilih sendiri cerpen mana yang layak dimasukkan ke buku tersebut. Terpilih enam belas cerpen dari tugas bulanan anggota Dimensi Kata. Masing-masing cerpen tersebut mewakili kepiawaian, warna tulisan, dan gagasan unik yang berbeda satu sama lain. Misalnya, cerpen berjudul Kandang Babi Mr. Bradley yang ditulis oleh Zeth. Karya tersebut kental dengan diksi cadas dan kesinisan kkhas Bukowski.  Nada ceritanya cenderung kelam, kumuh, tetapi indah dan cerdas dengan selipan dialog-dialog yang mengandung ketengikan. Sangat berbeda dengan cerpen Homicide oleh Narazwei. Tulisannya begitu apik, mengalir, dan halus seperti gaun satin yang dikenakan gadis cantik abad delapan belas. Tetapi gadis itu menyimpan luka dan keputusasaan yang dalam. Sehingga pembaca akan merasa kagum sekaligus iba pada duri yang melukai mawar tersebut.

Sayangnya buku ini hanya dicetak sebanyak limapuluh eksemplar. Menjadikannya sangat terbatas dan sampai sekarang tidak dicetak ulang, meski ada teman-teman yang meminta.

Itu dulu.

Bagaimana dengan sekarang?

Sekarang kehidupan membaca dan menulis saya hampir rata di layar monitor elektrokardiogram. Sesaat mati, lalu bangkit kembali karena hentakan mimpi masa muda. Jika bisa berteriak, mungkin jiwa remaja saya sudah meronta-ronta dan mematahkan tulang rusuk menjadi duabelas.

Saya cenderung menjadi penikmat dan hanya membaca fiksi di waktu luang. Untuk sekarang, tulisan paling berkesan adalah Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori terbitan KPG. Tulisan ini cukup membawa saya ke tahun 1998, ketika Indonesia masih bergelora dengan semangat geriyla melawan rezim pemerintahan saat itu. Perjuangan yang diprakasai para mahasiswa. Membuat mereka harus bermain kucing-tikus dengan aparat yang senantiasa mengendus ruang kritis perserikatan kecil di Sayegan.

Akhir kata, saya berharap gelembung semangat kepenulisan dan membaca saya kembali membara untuk mengisi jiwa yang hampa. Terutama di tahun depan, 2024.

 

 

 

 

 

Komentar